update : 30 – 04- 2009
Pembentukan Dan Profil order Vertisol
Soil survey staff USDA mengusulkan nama vertisol untuk jenis tanah yang masih dikenal dengan nama Grumosol diusulkan oleh Oakes dan Y. Thorp (1950) untuk tanah liat berwarna kelam yang bersifat fisik berat.
Ciri tanah ini sebagai berikut: (1) tekstur lempung dalam bentuk yang mencirikan, (2) tanpa horison eluvial dan iluvial, (3) struktur lapisan atau granuler, sering berbentuk seperti bunga kubis, dan lapisan bawah gumpal atau pejal, (4) mengandung kapur, (5) koefisien mengembang mengkerut tinggi jika dirubah kadar airnya, (6) seringkali mikrorelifnya gilgai (peninggian-peninggian setempat yang teratur), (7) konsistensi luar biasa plastis, (8) bahan induk berkapur dan berlempung sehingga kedap air, (9) dalam solum rata-rata 75 cm dan (10) warna kelam atau chroma kecil.
Factor pembentuk tanah yang domain untuk vertisol, adalah iklim yang relative agak kering sampai kering, dengan bulan-bulan kering yang jelas, dan atau bahan induk tanah yang relative kaya basa, seperti bahan volkan intermedier, batu gamping, napal, batu liat berkapur, atau bahan alluvial. Selain itu topografi berupa dataran antar perbukitan yang tertutup, dalam arti, tidak terdapat aliran outlet keluar wilayah, dan basa-basa dari lingkungan sekitar yang lebih tinggi berakumulasi di dataran, menyebabkan terbentuknya tanah vertisols, landform-nya, dimaksudkan sebagai dataran volkan, atau dataran antar perbukitan/pegunugan. Luas seluruhnya diperkirakan 2,12 juta ha, atau 1,1 % wilayah daratan Indonesia.
Di indonesia jenis tanah ini terbentuk pada tempat-tempat yang tingginya tidak lebih dari 300 meter di atas muka laut dengan topografi agak bergelombang sampai berbukit, temperatur tahunan rata-rata 25oC dengan curah hujan kurang dari 2500 mm dan pergantian musim hujan dan kemarau nyata. Bahan induknya terbatas pada tanah bertekstur halus atau terdiri atas bahan-bahan yang sudah mengalami pelapukan seperti batu kapur, batu napal, tuff, endapan aluvial dan abu vulkanik.
Kandungan bahan organik umumnya antara 1,5 – 4%. Warna tanah dipengaruhi oleh jumlah humus dan kadar kapur. Tanah yang kaya akan kapur kebanyakan hitam, sedang tanah-tanah yang berwarna kelabu biasanya bersifat asam. Mengenai kandungan basanya, jenis tanah ini mengandung unsur-unsur Ca dan Mg tinggi, bahkan dalam beberapa keadaan dapat pula terbentuk konkresi kapur dan akumulasi kapur lunak. Konkresi kapur terdapat di lapisan atas dan makin berkembang tanahnya makin dalam letaknya, jumlah serta besarnyapun bertambah. Seringkali bersama-sama dengan kapur lunak membentuk lapisan kapur yang dapat mencapai tebal satu meter. Konkresi besi juga kadang-kadang terdapat dalam profil tanah.
Menurut hardon (1939) jenis liat yang terbanyak monmorilonit, sehingga tanah mempunyai daya adsorbsi tinggi (50 – 100 me/100 gr lempung). Umumnya jenuh akan basa terutama Ca dan Mg Phnya 6,0 – 8,2 makin dalam makin alkalis. Hal ini menyebabkan gerakan air dan keadaan aerasi buruk. Jika tanah mengering setelah hujan permukaan gumpal tanah ngrumosol yang kaya akan kapur memperlihatkan caulipower- struktur. Jika basah (musim hujan) sangat lekat dan licin, sedangkan jika kering (musim kering) retak-retak. Tektur tanah yang tergolong lempung berat dengan kadar fraksi lempung lebih besar dari 50% sehingga memiliki kemampuan menyimpan air (water holding capacity) yang relatif besar.
Sifat tanah pertisol yang telah lama dijadikan tanah pertanian adalah kadar asam fosfat yang rendah, pertisol muda mengandung abu vulkan atau sisa – sisa batuan bernapal yang kaya akan fosfat. Dalam beberapa hal ada kolerasi diantara kadar fosfat dan kadar kapur, artinya tanah yang kaya fosfat biasanya alkalis, sehingga unsur hara itu sudah siap untuk diserap. Umumnya tanah yang telah berkembang, miskin akan unsur hara N, meskipun dalam batas yang lebih luas. Kurangnya bahan organik yang dikandung disertai unsur N dalam tanah.



